Tampilkan postingan dengan label FILM DOKUMENTER PESTA BABI KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNANKETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILM DOKUMENTER PESTA BABI KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNANKETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2026

FILM DOKUMENTER PESTA BABI KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN

 


 pabap pastor: jhon bunai 

KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN

melihaat,cahaya,pustaka,waiyadipi.new.com

Dalam  ilmu sosial, ekologi politik, dan studi pembangunan, "film dokumenter Pesta Babi" dapat dibaca sebagai sebuah kritik terhadap model pembangunan yang sering kali menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat adat.


Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia. Papua merupakan ruang hidup yang menyimpan hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di kawasan Asia-Pasifik, sekaligus menjadi sumber identitas, spiritualitas, dan keberlangsungan hidup masyarakat adat. Bagi orang Papua, hutan bukanlah komoditas ekonomi semata, melainkan bagian dari tubuh sosial dan kebudayaan mereka.


Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai proyek pembangunan berskala besar, termasuk yang masuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN), telah memunculkan perdebatan serius mengenai dampaknya terhadap lingkungan. Pembukaan lahan, eksploitasi sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, serta ekspansi industri ekstraktif dinilai telah mempercepat laju deforestasi dan mengubah bentang alam yang selama berabad-abad menjadi penyangga kehidupan masyarakat lokal.


Di sinilah Pesta Babi memperoleh makna politiknya. Film ini tidak hanya merekam kehidupan masyarakat Papua, tetapi juga menghadirkan pertanyaan mendasar: pembangunan untuk siapa, dan siapa yang harus menanggung biayanya?


Ketika suara masyarakat adat, kerusakan hutan, hilangnya ruang hidup, dan ancaman terhadap budaya lokal ditampilkan ke ruang publik, film dokumenter tersebut menjadi bentuk kritik terhadap paradigma pembangunan yang cenderung sentralistis.

 Narasi yang selama ini menonjolkan pembangunan sebagai simbol kemajuan dipertemukan dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan adanya kerusakan ekologis, ketimpangan distribusi manfaat, serta berkurangnya kontrol masyarakat adat atas tanah leluhur mereka.


Dalam kajian ekologi politik, konflik semacam ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan persoalan relasi kuasa. Hutan Papua sering dipandang sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi nasional, sementara masyarakat yang hidup dan bergantung pada hutan tersebut kerap memiliki ruang yang terbatas dalam proses pengambilan keputusan.


Karena itu, jika film Pesta Babi dianggap membuat penguasa merasa terusik, yang sesungguhnya terusik bukan hanya citra kekuasaan, melainkan narasi pembangunan yang selama ini jarang dipertanyakan. Dokumenter tersebut mengingatkan bahwa kemajuan tidak dapat diukur hanya dari jalan, investasi, atau angka pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus diukur dari kemampuan suatu bangsa menjaga hutannya, menghormati masyarakat adatnya, dan memastikan bahwa pembangunan tidak menjadi alasan untuk mengorbankan alam yang menjadi sumber kehidupan generasi mendatang.


Pada akhirnya, Pesta Babi dapat dipahami sebagai suara perlawanan ekologis: sebuah pengingat bahwa hutan Papua bukan sekadar aset negara, melainkan rumah, identitas, dan masa depan bagi masyarakat yang telah menjaganya jauh sebelum konsep pembangunan modern hadir.


Penulis๐Ÿ“š

Bung A's Yubu — di West Papua.

cahaya,pustaka,waiyaidipi,New.com

FILM DOKUMENTER PESTA BABI KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN

   pabap pastor: jhon bunai  KETIKA HUTAN PAPUA MENJADI KORBAN PEMBANGUNAN melihaat,cahaya,pustaka,waiyadipi.new.com Dalam  ilmu sosial, eko...

cahaya,pustaka,New.com